Oleh Bahrus Surur-Iyunk
Pagi itu, pk. 07.30, Selasa, 29 Oktober
2024, area parkir dan jalan depan Masjid Al-‘Ashri Perumahan Bapertarum Kolor Sumenep
dipenuhi kendaraan roda dua dan roda empat. Bukan karena apa, rupanya mereka
sedang menunggu menyalatkan jenazah seorang Ketua Pimpinan Cabang Kota Sumenep
periode 2015-2022. Saat jenazah datang, para pelayat pun langsung masuk
menyeruak ke dalam masjid. Shaf yang sudah dirapatkan berjarak satu jengkal itu
tetap saja menjadikan masjid itu penuh. Salah seorang jamaah yang juga anggota
takmir masjid Al-Ashari sampai bilang, “Baru kali ini, masjid ini penuh saat
menyalatkan jenazah.”
Tegas Semangat
Pak Rahem –begitu orang sering
memanggilnya—aktif di Muhammadiyah sejak masih muda. Ia mengikuti jejak
pamannya, Drs. H. Abd Rafik, yang pernah menjabat sebagai Ketua PDM Sumenep
sejak dari 1970 hingga 2000. Pak Rahem pernah aktif di PD Pemuda Muhammadiyah
selama puluhan tahun hingga tahun 2010. Padahal, waktu itu usianya sudah lebih
dari 40 tahun. Tapi ia masih bersemangat.
Selain itu, beliau juga aktif di Pimpinan
Cabang Muhammadiyah Kota Sumenep. Bukan hanya itu, beliau juga aktif di salah
satu Unsur Pembantu Pimpinan PDM Sumenep. Plus menjadi salah satu takmir masjid
Darussalam, sebuah masjid yang dikelola Muhammadiyah terletak di tengah kota
Sumenep. Sampai sekarang, beliau juga masih tercatat sebagai Wakil Ketua Pimda
225 Tapak Suci Sumenep.
Pada tahun 2015, beliau didapuk menjadi
Ketua PCM Kota Sumenep. Di tangannya, PCM memiliki kelompok pemberdayaan
ekonomi yang disebut “Pasapean”. Kelompok ini memberikan pelayanan pemeliharaan
sapi oleh masyarakat kecil dengan pembagian keuntungan yang tidak biasa.
Biasanya, di masyarakat umum pembagian keuntungan itu 50:50, maka oleh beliau
pembagian keuntungan ditetapkan 60:40. 60 persen untuk pemelihara, dan 40 untuk
PCM. Itupun pemelihara masih mendapat santunan sembako, terutama di bulan puasa
dan hari raya.
Ia pula yang bersikukuh memberlakukan
perjanjian di atas kertas plus materai. Sebuah kebiasaan yang hampir tidak
pernah dilakukan para petani dan pemelihara sapi di pedesaan. Dan berjalan
sesuai Keputusan.
Pada periode beliau, PCM Kota Sumenep juga
mendirikan SD QISMU (SD Quranic Integrated School of Muhammadiyah) Sumenep.
Setelah masa periode beliau selesai (2022/2023), amal usaha ini “diambil-alih”
oleh PDM dan dikelola oleh Majelis Dikdasmen PDM Sumenep. Setidaknya, pada masa
beliaulah SD Muhammadiyah berdiri di daratan Sumenep.
Dari sisi kepemimpinan, beliau ini terkenal
tegas. Model pemahaman terhadap keputusdan organisasi, menurut saya, cenderung
hitam putih. Baginya, “Kalau sudah aturan dan Keputusan PP Muhammadiyah begitu,
ya harus begitu. Jangan dibelok-belokkan.” Terhadap kesalahan beliau juga cukup
tegas, meski kadang agak sedikit berbeda dengan pendapat rekan-rekan sesame
pimpinan.
Peduli Sesama
Tapi, ketegasannya selalu mencair ketika
ada seorang teman yang meminta tolong kepadanya. Ia mudah menolong dan peduli
kepada orang lain. Beliau juga tidak pernah marah kalau digojlok oleh
teman-teman sesame pimpinan. “Paling hanya senyum saja”, kata Pak Mahmud,
pemilik Warung Soto Madura “Cak Amuk”.
Beliau juga memiliki keahlian khusus.
Beliau bisa dan biasa melakukan pijat refleksi. Dalam banyak kesempatan, beliau
mengumunkan dan membuka diri kepada jamaah shalat jumat yang ingin pijat
refleksi gratis kepada beliau selepas shalat Jumat.
Bahkan, saat baru didirikan shalat Jumat di
Masjid KH. Ahmad Dahlan Parsanga Sumenep, beliau sering datang ke sana dan
memberikan pelayanan pijat refleksi gratis. Beliau ingin menarik massa agar
banyak yang mau bershalat jum’at di masjid yang baru dibangun ini.
Keluar dari PDM
Pada saat Musyda Muhammadiyah Sumenep 2022,
Pak Rahem terpilih masuk jajaran 13 pimpinan. Dia mengikuti rapat dan sidang
formatur hingga PWM Jatim. Tapi, bersamaan dengan pencalegan dirinya sebagai
caleg Partai Umat, maka dia pun mengundurkan diri. Beliau pimpinan yang taat
aturan. Meski saya peribadi sesungguhnya melihat konstelasi politiknya, bahwa
beliau sangat berat untuk bisa menembus percaturan caleg di Dapil 1 Kota dan
sekitarnya. Tapi, beliau yang sangat suka dengan cabe ini tetap kukuh pada
pendiriannya, “Saya harus keluar dari PDM.” Beliau terus melaju di jalur
politik, meski akhirnya kandas.
Kendati tidak jadi dan keluar dari jajaran
PDM Sumenep, beliau tetap semangat ber-Muhamamdiyah. Ia aktif sebagai takmir di
beberapa masjid Muhammadiyah. Aktif mengikuti pengajian dan kegiatan
Persyarikatan. Sekedar info bahwa beliau ini terkenal menyukai cabe. Jika kit
aini makan dengan sambal cukup dengan sesendok atau satu dia butir cabe, maka
Pak Rahem ini bisa menghabiskan 20-30 butir cabe untuk sekali makan nasi
sepiring.
Dimudahkan oleh Allah
Lauhul Fatehah bapak Rahem 🌹🌹🌹
BalasHapus